AMURT Hidupkan Storytelling di Tiga Kota di Indonesia

Mayoritas anak-anak menyukai cerita. Mereka selalu betah mendengarkan cerita, terlebih jika sang pencerita bisa membawakan ceritanya dengan hidup. Bahkan bukan hanya anak-anak, orang dewasa pun suka dengan cerita dan senang bercerita. Dalam keseharian kita, setiap saat kita selalu mendengarkan cerita dari orang-orang di sekitar kita atau kita sendiri yang bercerita kepada orang-orang di sekitar kita, baik soal hal-hal sederhana yang kita lakukan atau alami dalam keseharian kita, atau tentang persoalan-persoalan yang bersifat khusus. Begitulah cerita, ia terkadang hadir begitu saja secara alamiah mewarnai kehidupan sehari-hari.

Menuturkan cerita atau storytelling adalah aktivitas kultural dan sosial dalam berbagi kisah atau cerita, yang acapkali disertai improvisasi, pertunjukan, dihiasi berbagai pernak-pernik dan bumbu-bumbu sebagai penyedapnya. Kisah atau cerita telah diwariskan dari generasi ke generasi di dalam setiap kebudayaan sebagai sarana hiburan, pendidikan, pelestarian budaya, dan penanaman nilai-nilai moral.

Indonesia adalah negeri yang kaya dengan cerita yang telah diturunkan dari generasi ke generasi. Tradisi cerita lisan ini tidak hanya berhubungan dengan dunia nyata yang riil, tapi juga dunia ghaib. Hal ini pula yang menempatkan masyarakat Indonesia lebih kuat tradisi lisannya dari pada tradisi tulisan. Namun sayangnya, seiring dengan perkembangan waktu dan zaman, cerita-cerita yang sangat kaya dengan nilai, pesan, dan pelajaran tersebut pelan namun pasti tidak terawat secara baik. Cerita-cerita yang ada tidak lagi dilihat sebagai kekuatan yang bisa dijadikan sebagai media pendidikan, khususnya bagi anak usia dini.

Dalam konteks ini, AMURT yang selama ini concern dalam pengembangan PAUD di Indonesia ikut terpanggil untuk menghidupkan kembali khazanah-khazanah cerita yang ada dan hidup dalam masyarakat melalui sentuhan modern. Oleh karena itu, AMURT Indonesia menghadirkan seorang storyteller internasional berkebangsaan Belanda yang saat ini menetap di Taiwan, Rutger Tamminga, untuk berbagi pengalaman dalam menghidupkan storytelling melalui sentuhan modern dengan para mahasiswa calon guru PAUD, akademisi, dan praktisi PAUD di Indonesia, khususnya Bali dan Jawa Tengah (Semarang dan Demak). AMURT membingkai kegiatan ini dalam bentuk “Workshop Creative Storytelling, Song and Movement” yang diselenggarakan di tiga kota, yaitu Karangasem-Bali, Semarang dan Demak di Jawa Tengah.

Di Karangasem-Bali, workshop diselenggarakan tanggal 5-6 September 2017, dan sesudahnya diselenggarakan tiga kali kegiatan di Jawa Tengah, yaitu dua kali di Semarang dan sekali di Demak. Di Semarang, pada 08 September 2017 AMURT berkolaborasi dengan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang (UNNES) menggelar Stadium General dan dilanjutkan bekerjasama dengan Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) menggelar workshop pada 9-10 September 2017, setelah itu kemudian menggelar workshop khusus tanggal 12-13 September 2017 di Demak kepada guru-guru khusus yang telah diseleksi oleh AMURT yang tergabung dalam program Pelatihan Calon Pelatih (PCP). Workshop di Karangasem, Bali, diikuti oleh 190 peserta, di UNNES diikuti oleh 150 peserta, di UPGRIS diikuti oleh 340 peserta dan workshop khusus di Demak diikuti oleh 30 peserta.

Di dalam workshop ini, R. Tamminga sangat interaktif dan kreatif dalam melatih para peserta. Tidak hanya menyuguhkan materi, peserta juga diajak secara langsung untuk praktik membuat cerita, bercerita, bergerak, bernyanyi, dan membuat media cerita. Dalam berbagai kesempatan para peserta diajak dan diajari secara langsung bagaimana menggali cerita dan membuat cerita yang menarik yang bersumber dari khazanah-khazanah yang sudah ada di sekitar kita. Dia menjelaskan bahwa cerita memiliki kekuatan yang sangat dahsyat dalam menstimulasi perkembangan anak dan merupakan media belajar yang murah namun efektif dalam pendidikan anak-anak usia dini.

Lebih lanjut R. Tamminga menjelaskan tentang pentingnya gerakan dalam bercerita dan pembelajaran anak usia dini. Menurutnya, gerakan cepat dan sulit dapat membantu anak untuk tenang. Gerakan lambat (slow movement) dapat membantu anak untuk tenang dan belajar pengetahuan. Gerakan cepat dan sulit mengharuskan anak untuk tenang dan berkonsentrasi, jika tidak maka kemungkinan akan mengalami ‘kegagalan’ bergerak. Gerakan cepat sendiri sangat baik untuk menjaga kebugaran tubuh anak, sedangkan gerakan lambat sangat baik untuk menyeimbangkan pikiran anak. Ketika pikiran dan tubuh anak seimbang maka anak akan merasa nyaman dengan tubuhnya sendiri. Ketika merasa nyaman mereka bisa fokus dalam belajar. Gerakan melompat, misalnya, dapat membantu melatih otot perut, yaitu otot yang punya hubungan erat dengan perkembangan kemampuan berbicara anak. “Anak yang kurang lancar berbicara dan membaca biasanya otot perutnya kurang kuat,” terang Tamminga saat menjelaskan mengapa gerakan-gerakan tertentu diperlukan untuk dilatih kepada anak usia dini. Oleh karena itu, lanjut Tamminga, “Jika anak susah konsentrasi, cari cara agar anak banyak gerak.”

Salah seorang peserta pelatihan, Eko Riyanti menuturkan kepada Staf AMURT di sela-sela workshop berlangsung, bahwa dia banyak belajar tentang cara mengendalikan dan mengajar anak melalui cerita dan gerakan yang diajarkan oleh Teacher Tamminga. Dia mengakui, meskipun selama ini telah banyak menggunakan cerita sebagai salah satu model pembelajaran, namun dengan model yang klasik-klasik saja. Dari Teacher Tam dia mengaku belajar banyak dan menjadi lebih mengerti ternyata di balik gerakan, cerita, dan nyanyian mengandung aspek-aspek dan” teknik yang sangat bagus dalam manajemen kelas dan pembelajaran.

Sarita, salah seorang peserta dan sekaligus koordinator acara di Bali menyampaikan bahwa pelatihan atau workshop yang diberikan oleh Tamminga sangat inspiratif dan praktikal, bahkan hanya dua hari mereka sudah bisa membuat cerita dalam bahasa Inggris. “Seluruh guru Kabupaten Karangsem mengucapkn terima kasih kepada Teacher Tamminga dan tentu saja kepada AMURT Indonesia karena telah memfasilitasi kami sebuah pelatihan yang begitu menginspirasi dan sangat praktikal. Sehingga hanya dalam dua hari kami semua sudah bisa berbahasa Inggris sederhana dan menciptakan sebuah cerita berbahasa Inggris juga. Suatu berkah buat kami atas kesempatan ini. Semoga akan ada lagi peltihan-pelatihan dari AMURT lagi untuk kami di Kota Kecil Bagian Timur Bali. “I LOVE U AMURT,” katanya bersemangat.

Related Post
0 Comments