PAUD Permata Hati: Berubah Lebih Cepat Bersama AMURT Indonesia

Jika sedang berada di alun-alun Kota Demak, sempatkan lah berjalan-jalan ke Dukuh Ngangkrang, Desa Tempuran, Kab. Demak, Jawa Tengah. Untuk menuju dukuh ini hanya butuh 15 menit, karena jaraknya hanya sekitar 4,5 kilo meter dari alun-alun Kota Demak. Jika ke sana bertepatan dengan musim tanam maka akan disuguhi pemandangan hijau dari bentangan sawah di kanan-kiri jalan yang ditanami padi. Di dukuh ini terdapat sebuah sekolah untuk anak-anak usia dini yang sedang bergeliat untuk terus maju, dan sekaligus merupakan satu-satunya PAUD di perkampungan ini.

Namun jangan dulu membayangkan wujud PAUD ini adalah berupa bangunan megah, karena PAUD ini adalah rumah pribadi milik Ibu Maslahah yang disulap menjadi sebuah sekolah bagi anak-anak usia dini. PAUD ini didirikan oleh Ibu Maslahah tahun 2003, diberi nama PAUD Permata Hati. Cikal bakal berdirinya PAUD ini adalah dari lomba desa, yaitu sebagai salah satu syarat mengikuti lomba desa. Jadi, munculnya PAUD ini awalnya hanya sebatas “sebagai syarat mengikuti lomba desa saja.” Namun, usai lomba, Ibu Maslahah tidak mau jika PAUD tersebut dibubarkan. Oleh karena itu, ia pun bertekad mempertahankannya. Ibu Maslahah menuturkan bahwa pada saat itu PAUD tersebut berjalan apa adanya, ala kadarnya, karena ia sendiri tidak punya cukup pengalaman, pengetahuan dan dana dalam mengelola PAUD.

Suasana pembelajaran di PAUD Permata Hati, Dukuh Ngangkrang, Desa Tempuran, Kab. Demak, Jawa Tengah, yang dilakukan di emperan rumah Ibu Maslahah.

Ibu Maslahah menuturkan, meskipun tidak disupport dari desa, namun ia akan tetap bertahan dan berjuang untuk tetap eksis. “Tidak boleh bergantung, karena sudah komitmen sejak awal,” tuturnya dengan semangat. “Apa pun yang terjadi PAUD harus tetap jalan. Ini sudah menjadi komitmen saya bersama suami. Tidak akan ditutup. Kalau ditutup saya gak rugi, yang rugi masyarakat,” tambahnya.

Suasana pembelajaran di PAUD Permata Hati, Dukuh Ngangkrang, Desa Tempuran, Kab. Demak, Jawa Tengah

Dengan tekad yang kuat, perempuan berusia 46 tahun ini pun terus belajar dari waktu ke waktu, baik dengan mengikuti pelatihan-pelatihan dari Dinas maupun HIMPAUDI, meskipun menurutnya juga masih sangat terbatas. HIMPAUDI, misalnya, minim menyelenggarakan pelatihan karena keterbatasan dana. Oleh karena itu ia pun bertekad untuk mendalami keilmuan PAUD dengan kuliah S1 PAUD, dan kini ia sudah berada di semester 8.

Ibu Maslahah (paling depan, pojok kanan) sedang berdoa bersama para anak didik PAUD Permata Hati dan orangtuanya dalam kegiatan Parenting bersama AMURT Indonesia

“Walaupun sudah banyak pelatihan yang saya ikuti, tetapi rasanya kurang efektif. Menurut saya itu terjadi karena kurang mendalamnya ilmu yang saya dapatkan dan kesulitan saya untuk membagikan kepada guru-guru saya. Berbeda ketika mengikuti pelatihan dari AMURT, semua guru saya bisa terlibat sehingga perubahan dan penerapan ilmu menjadi lebih cepat,” tutur Bu Maslahah saat berbincang dengan staf AMURT di sela-sela sosialisasi hasil Monev, di Gedung BKPP Kab Demak, 19 Juli 2017 lalu. Ia juga merasakan ada perubahan yang cukup besar setelah mengikuti program AMURT. “Bedanya dulu dan sekarang beda jauh sekali. Sebelum ikut AMURT, ketika bikin program tidak jelas. Ketika terlibat di AMURT bisa sangat detail bikin program. AMURT terjun langsung di lapangan sehingga lebih detail,” ujarnya dengan mantap.

Kegiatan Parenting di PAUD Permata Hati, Dukuh Ngangkrang, Desa Tempuran, Kab. Demak, Jawa Tengah

Kegiatan-kegiatan yang diselenggarakan bersama AMURT juga telah menarik perhatian masyarakat. Parenting, misalnya, baru dikenal oleh masyarakat ketika PAUD Permata Hati mengadakan program parenting bersama AMURT, sehingga menurutnya sangat wajar jika masyarakat belum memahami pentingnya parenting. “Sejak AMURT membuat program parenting dengan berbagai macam model di lembaga saya, masyarakat merespons dengan baik,” tambahnya. Sedangkan mengenai Project APE AMURT, menurut Ibu Maslahah project semacam ini sangat bagus, karena bisa melahirkan APE yang cukup beragam, bukan APE orang kota yang belum tentu cocok buat anak desa. “APE dari AMURT sangat menarik sehingga membuat anak didik saya antusias dalam memainkannya,” terangnya.

Namun di balik itu semua, Bu Maslahah pun mengakui ada tidak enaknya juga mengikuti program AMURT, yaitu seringnya benturan waktu. “Hari ini saja (jam 13:30, saat mengikuti kegiatan sosialisasi Monev di BKPP Kab. Demak) sejak bangun tidur saya belum lihat anak-anak saya. Habis mengikuti acara di tempat lain, saya langsung ke sini,” ujar Ibu yang anak pertamanya kini duduk di kelas 1 SD dan yang kedua masih di PAUD ini. “Namun saya belum mau dilepas AMURT, masih belum mandiri. Ibarat mangga itu masih kemampo, belum matang,” tegasnya.

Related Post
0 Comments