Storytelling: Merekatkan yang Dekat, Melejitkan Imajinasi (yang Biasa)

Elizabeth Margulis, dalam tulisannya “Fairy Tales and More Fairy Tales” di New Mexico Library Bulletin menuturkan bahwa pada suatu hari Albert Einstein ditanya/dimintai nasihat oleh seorang ibu mengenai bacaan apa yang bagus diberikan kepada seorang anak untuk mempersiapkan karirnya kelak sebagai seorang ilmuwan. Jawaban Einstein pun membuat wanita tersebut terkejut. “Fairy tales and more fairy tales,” kata Einstein. Sang Ibu pun menganggap Einstein sembrono dan tidak serius, sehingga ia meminta Einstein menjawab lebih serius. Namun, Einstein bergeming, seraya menjelaskan bahwa elemen dasar (esensial) dari perangkat intelektual seorang ilmuwan yang sebenarnya adalah imajinasi kreatif, dan cerita atau dongeng merupakan stimulus terbaik bagi anak-anak terhadap kualitas ini.

Dari sini kita bisa melihat bahwa dongeng atau cerita mampu melejitkan imajinasi seorang anak. Imajinasi sendiri merupakan faktor yang sangat penting dalam perkembangan intelektualias dan kreativitas anak, bahkan saking pentingnya Einstein pernah bilang bahwa “Imagination is more important than knowledge.”

Sayangnya, aktivitas bercerita ini belum mendapatkan porsi perhatian yang memadai dari kalangan yang bergelut dengan anak-anak, misalnya para guru anak usia dini. Menyadari hal ini, AMURT kemudian mencoba menggagas untuk melatih para kader-kader khusus yang berasal dari para guru dampingannya di Kabupaten Demak dan Kota Semarang untuk dibekali dengan ilmu storytelling dalam kegiatan bertajuk “Workshop Creative Storytelling, Song and Movement.” Workshop dengan narasumber Rutger Tamminga, children storyteller specialist dari Taiwan ini dilangsungkan di Aula SMP 1 Karangtengah, Kab. Demak selama dua hari (12-13 September 2017) dengan diikuti 30 peserta yang tergabung dalam program Pelatihan Calon Pelatih (PCP).

Selama dua hari, para peserta diajak untuk memahami dasar-dasar teoretis-konseptual dan praksis mengenai signifikansi atktivitas storytelling, gerak dan lagu. Pada hari pertama workshop ditekankan untuk memahami aspek pentingnya gerakan-gerakan tertentu dalam perkembangan anak dan sekaligus melakukan praktik-praktik bergerak, baik secara individual maupun dalam kelompok. Di hari kedua para peserta diajak untuk menggali khazanah-khazanah lokal yang telah ada lalu mengkreasikannya dalam berbagai bentuk dan model cerita dan sekaligus mempraktikkannya pada saat itu juga. Selain itu, di kedua hari tersebut Tamminga juga menekankan pentingnya lagu dalam berbagai aktivitas bercerita dan bergerak, dan bagaimana mengkomposisi lagu sebagai media pembelajaran dan sekaligus menjadi bagian tak terpisahkan dalam aktivitas gerak dan bercerita.

Untuk mejadikan ekspresi cerita lebih menarik, Tamminga meminta para peserta mengekspresikan suasana hatinya dalam bentuk gambar lalu menceritakannya dalam sebuah cerita. Selain itu peserta juga diminta untuk bekerjasama membangun sebuah cerita utuh dengan cara satu orang memulai cerita kemudian berhenti setelah mengucapkan beberapa kalimat, lalu orang berikutnya melanjutkan alur cerita tersebut, kemudian berhenti. Orang selanjutnya menambahkan cerita tersebut dan sebagainya hingga cerita berakhir. Di sini Tamminga menekankan terhadap pentingnya improvisasi-improvisasi, baik berupa gerakan, musik atau lagu dalam bercerita dan menyarankan agar aktivitas tersebut direkam supaya bisa diputar di lain waktu.

Dalam menggali sebuah cerita, Tamminga menekankan kepada para peserta terhadap pentingnya konteks lokalitas. Penggalian cerita seperti ini bisa dengan cara mengumpulkan kisah dari orang-orang yang lebih tua tentang kota atau desa yang mereka tinggali, bagaimana sejarah dan asal usul nama dari suatu jalan, nama desa dan nama kota, apakah penamaannya berhubungan dengan nama-nama tokoh, legenda atau peristiwa tertentu dan sebagainya. Aktivitas juga dilakukan dengan melakukan field trip untuk melihat foto-foto lama atau artefak. Cerita-cerita tentang keluarga dan sejarah keluarga, tambah Tamminga, juga merupakan bahan storytelling yang sangat bagus untuk anak-anak.

Cerita sendiri bisa dikreasikan dari apa saja, karena sesungguhnya segala sesuatu memiliki cerita, termasuk “benda.” Tamminga menjelaskan bahwa kita bisa berkreasi membuat cerita tentang kehidupan dari setiap “benda” atau “sesuatu“ itu. Caranya, gambarkan cerita masa lalu benda atau sesuatu itu mengenai bagiamana ia digunakan, saat dibeli atau diperoleh, diproduksi, hingga ke asal usul awalnya dari mana komponen-komponen tersebut terbuat. Penyajian cerita ini bisa dengan menceritakannya seperti sebuah autobiagrafi, contohnya “cerita selembar koran yang asal-usulnya adalah sebatang pohon di hutan.“ Cerita juga bisa dikembangkan dari sebuah peribahasa yang sudah dikenal, lalu mengembangkannya menjadi sebuah cerita yang mengangkat gagasan tersebut.

Apa yang disampaikan dalam workshop ini diakui oleh para peserta dan juga para staf AMURT sangat menarik dan aplikatif. Salah seorang staf AMURT, Genie F., setelah mengikuti berbagai aktivitas workshop Tamminga di Semarang dan Demak, saat kembali ke kampungnya di Sulawesi Selatan mempraktikkan materi yang didapatkannya tersebut kepada keponakannya. Dia menuturkan bahwa keponakannya sangat senang diceritakan beberapa kisah dan diajari gerakan-gerakan yang diajarkan oleh Tamminga. Setelah diajari 10 gerakan, si keponakan masih saja meminta ditambahi lagi. “Tambah lagi dong, Om!,” tutur Genie menirukan keponakannya. “Oke! Om ajari lima gerakan lagi. Tapi nanti kamu ajari juga teman-temanmu ya?,“ ujar Genie menirukan dialog negosiasinya dengan sang keponakan. Si om dan keponakannya pun kemudian bersepakat dan kemudian bermain gerak bersama.

Selama memberikan workshop di tiga kota di Indonesia, Tamminga sangat senang dengan antusiasme peserta untuk belajar. “I’m very happy with the teachers,” ujarnya dengan senyum mengembang saat berbincang dengan staf AMURT, sebelum berpamitan untuk kembali ke Taiwan. Terima kasih banyak Tamminga atas ilmu yang telah dibagikan, sampai bertemu lagi di lain kesempatan.

Related Post
0 Comments