AMURT Bekali Guru PAUD Kemampuan Fasilitasi

Seorang guru PAUD, selain harus mampu mengajar dan mengelola kelas dengan baik juga harus mempunyai kemampuan memfasilitasi atau menjadi fasilitator. Kemampuan memfasilitasi ini sangat penting, baik yang berhubungan dengan proses pembelajaran secara langsung atau tidak langsung. Namun karena kemampuan semacam ini tidak datang secara tiba-tiba, maka diperlukan serangkaian proses untuk sampai pada tahap tersebut. Menyadari pentingnya hal ini, AMURT membekali para guru-guru dampingannya yang tergabung dalam PCP (Pelatihan Calon Pelatih) dengan kemampuan teknik fasilitasi. Selama empat hari, 31 Juli-3 Agustus 2017 dengan difasilitasi oleh fasilitator dari AMURT para guru ini diberi pelatihan teknik fasilitasi.

Pelatihan ini sendiri dilaksanakan dari siang sampai sore, setiap harinya. Dua hari pertama pelatihan bertempat di BKPP Kab Demak, Karangtengah, Demak. Sedangkan dua hari selanjutnya bertempat di SMP N 1 Karangtengah, Demak. Total peserta yang mengikuti pelatihan ini sebanyak 40 orang guru dari berbagai kecamatan di Kab Demak dan Kota Semarang. Setelah pelatihan, peserta diharapkan memiliki bekal dalam memfasilitasi dalam forum-forum pertemuan guru PAUD ataupun forum lain.

Pendekatan Belajar untuk Orang Dewasa

Pelatihan dibuka oleh salah seorang peserta, Ibu Adit, dimulai jam 13:00 WIB, kemudian dilanjutkan pembukaan dengan berdoa bersama seluruh peserta. Selanjutnya seluruh peserta menyanyikan lagu Indonesia Raya yang dipandu oleh Yuli Hartutik, guru PAUD Assalam, Karangawen Demak. Acara kemudian dilanjutkan dengan permainan “Kupikir-pikir satu dua tiga…”, yang merupakan ide dari Ibu Aslamah, Guru PAUD Alkarimah Karangtengah Demak.

Genie Fitriady Fendy, fasilitator pelatihan dari AMURT Indonesia, sedang mengajak peserta berdiskusi tentang prinsip pembelajaran orang dewasa

Pelatihan yang menggunakan pendekatan andragogi ini menerapkan prinsip belajar: dari peserta, oleh peserta dan untuk peserta. Para peserta dibagi ke dalam pasangan yang terdiri dari dua orang. Mereka akan bekerjasama dan bekerja di dalam kelompok kecil tersebut. Pada hari pertama peserta diajak untuk berdiskusi dan mengeksplorasi “Karakteristik Pengajar Orang Dewasa,” dan pada hari-hari selanjutnya para peserta diminta untuk diskusi, kerja dalam kelompok dan praktik. Semua peserta pun di akhir pelatihan bisa praktik dalam memfasilitasi.

Para peserta sedang berdiskusi dan bekerja menyelesaikan masalah di dalam kelompok

Banyak hal yang menarik saat proses pelatihan ini berlangsung. Mayoritas peserta juga menyampaikan bahwa model pelatihan dengan pendekatan andragogi semacam ini merupakan pertama kali yang diikuti. Hal ini seperti diungkapkan oleh Ibu Ratna Suryani, pengelola PAUD Ceria Anakku Genuk Semarang, bahwa pelatihan kali ini sangat berbeda dengan pelatihan yang pernah diikuti sebelumnya. “Selama ini saya ikuti pelatihan sangat beda dengan yang ini, karena di sini ada praktiknya setelah pelatihan. Saya baru tahu ternyata pelatihan dengan teknik belajar orang dewasa itu beda, sangat beda dengan anak-anak. Selama ini pelatihan yang saya ikuti adalah untuk anak-anak,” ujarnya kepada Haryono dari AMURT saat menunggu pelatihan dimulai.

Demam Panggung di tengah Suasana Kekeluargaan

Peserta menyampaikan bahwa suasana dan hubungan yang terbangun antar peserta sangat baik, penuh keakraban, saling kenal dan penuh kekeluargaan. Suasana semacam ini mulai dibangun dari awal perkenalan antar peserta, di mana semua peserta harus menyebutkan semua nama teman-temannya yang lain. Selain itu, kerja dalam kelompok juga menjadi sarana peningkatan keakraban yang sangat bagus bagi peserta. Karena mereka harus bekerjasama antar anggota kelompok untuk menampilkan penampilan terbaik mereka.

Kustiana Dewi (berjilbab dan berbaju gamis warna hijau), Guru PAUD Roudhotul Hidayah Mranggen Demak saat sedang praktik menjadi fasilitator

Meskipun peserta mengakui bahwa pelatihan semacam ini sangat menarik dan berguna, namun mereka tidak menafikan bahwa menjadi fasilitator ternyata banyak tantangannya. “Saat praktik memfasilitasi di depan teman-teman, saya gemetar, meskipun di depan teman-teman yang sudah saya kenal dan sudah biasa bercanda,” ujar Ibu Aslamah.

Faktor “demam panggung” pun menjangkiti semua peserta. Saat praktik, waktu yang disediakan adalah 15 menit, namun seringkali yang terpakai hanya 5 menit. Menurut fasilitator dari pelatihan ini, Genie, ini lebih disebabkan karena kekurangan jam terbang, kurang praktik. Namun keberanian peserta dalam mengubah desain di tengah jalan itu hal yang bagus. “Mengubah desain berdasarkan masukan audiens itu bagus, bisa jadi (masukan tersebut—red) idenya lebih siap, lebih matang. Berani maju itu point yang luar biasa. Soal masih kurang itu diperbaiki di kemudian hari,” ujarnya di session terakhir pelatihan saat memberikan respon terhadap performance para peserta.

0 Comments