Apa Itu Perlindungan Anak ?

Taukah kalian dengan “Perlindungan Anak” ?

Pertanyaan diatas mungkin terdengar sederhana tetapi mengandung makna yang sangat luar biasa. Banyak dari kita para orangtua yang tidak mengerti bahkan kita tidak tahu tentang hal tersebut. Dari permasalahan itulah AMURT Indonesia ingin memberikan informasi yang sangat penting kepada semua masyarakat luas tentang “Perlindungan Terhadap Anak”.

Arti dari Perlindungan Anak

Perlindungan terhadap hak anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup,tumbuh dan berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia dan sejahtera.

Pemerintah Indonesia juga sudah membuat regulasi mengenai hal ini, Dalam Undang-Undang No 35 Tahun 2014 Tentang Perlindungan Anak . Lebih jelasnya klik saja tautan ini : UU No 35 Tahun 2014

Sebelum masuk ke pembahasan utama, AMURT Indonesia akan bagikan apa saja dampak secara umum yang bisa terjadi kepada anak jika anak mengalami kekerasan akibat rendahnya kesadaran tentang perlindungan anak.

Dampak Kekerasan Terhadap Anak :

  1. Anak mengalami trauma yang berkepanjangan.
  2. Timbul pemikiran dalam diri anak bahwa orang dewasa boleh melakukan kekerasan terhadap mereka yang usianya lebih kecil. Artinya jika anak mendapatkan kekerasan dari orang dewasa, maka tidak menutup kemungkinan jika kelak mereka dewasa akan melakukan kekerasan terhadap mereka yang usianya lebih kecil darinya. Dengan demikian anak yang menjadi korban kekerasan sangat berpotensi menjadi pelaku tindak kekerasan terhadap orang lain (pelaku adalah korban).
  3. Munculnya rasa tidak percaya diri. Contohnya ketika anak melakukan kesalahan dan orangtuanya memarahi atau menegur dengan cara yang salah, maka yang terjadi adalah anak menjadi tidak berani untuk melakukan hal yang sama karena takut dimarahi, serta tidak berani untk mencoba hal baru.
  4. Muncul rasa takut berlebihan.
  5. Anak akan menarik diri dari kehidupan sosial, bahkan dalam jangka panjang akan menjadi anti sosial.
  6. Bila kekerasan berupa kekerasan emosional, maka akan muncul rasa ketidaknyamanan (tertekan batin, stres dan frustasi).
  7. Bila anak mengalami kekerasan fisik, maka anak akan kesakitan jangka panjang, trauma, bahkan mengalami cacat fisik permanen jika kekerasan dilakukan secara berlebihan.

    Jenis-jenis kekerasan terhadap anak :

  • Kekerasan Fisik
  • kekerasan Psikis
  • Kekerasan Seksual
  • Penelantaran

Kekerasan Fisik

Kekerasan fisik adalah kekerasan yang melukai anak secara fisik, contohnya : memukul, mencubit, menendang, menjambak, menampar dan lain sejenisnya. Kekerasan fisik biasanya mengakibatkan anak akan merasa takut, trauma, tertekan dan mengalami kesakitan berkepanjangan bahkan bisa mengakibatkan cacat fisik secara permanen. Dll

Kekerasan Psikis

Kekerasan psikis adalah kekerasan yang melukai anak secara psikis atau emosional, seperti : memberikan label anak (menyebut anak nakal, bodoh, malas), membentak, mengancam, mempermalukan anak (mengolok-olok anak), melakukan anak secara diskriminatif (menbeda-bedakan anak satu dengan yang lainnya). Dll

Kekerasan seksual

Kekerasan seksual adalah bentuk kekerasan yang mengeksploitasi anak secara seksual untuk memenuhi kepuasan orang dewasa. Contohnya : memaksa mencium anak, memperlakukan anak secara tidak senonoh secara seksual, membiarkan anak menonton atau melihat adegan seksual, melibatkan anak dalam kegiatan prostitusi. Dll

Penelantaran

Penelantaran anak adalah bentuk kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan anak tidak terpenuhi kebutuhan dasarnya (makan, minum, pakaian, kesehatan fisik dan psikis). Contohnya : mengabaikan kesehatan anak, mengabaikan pendidikan anak, penelantaran gizi, mengabaikan keamanan dan kenyamanan anak. Dll

Siapa saja yang berpotensi untuk melakukan tindak kekerasan terhadap anak ?

Kekerasan terhadap anak dapat terjadi pada semua anak tanpa terkecuali, baik anak yang ada di sekolahan, tempat umum, di tempat penitipan anak, bahkan anak yang berada di lingkungan keluaganya sendiri. Karena pelaku tindak kekerasan kebanyakan bukan orang asing, melainkan orang terdekat yang setiap hari berinteraksi atau bersinggungan terhadap anak. Misalnya : teman, saudara, guru, kerabat, atau bahkan orangtua. Sebagian dari kita mungkin melakukan kekerasan terhadap anak kita sendiri tetapi kita tidak menyadarinya.

Mari kita semua mengintropeksi diri, sudahkah kita melakukan yang terbaik untuk anak-anak kita? ataukah sebaliknya?

Semoga dengan artikel ini kita semua para orangtua,masyarakat dan orang dewasa memahami betul tentang perlindungan terhadap anak, agar tidak terjadi lagi kekerasan terhadap anak yang berujung karakter dan pola pikir mereka menjadi salah.

 

 

 

 

0 Comments