Belajar Menjadi Guru PAUD yang Baik melalui Kerja Sama

Di dunia pendidikan, tak terkecuali pendidikan anak usia dini (PAUD), salah satu elemen yang paling penting adalah guru. Di tangan merekalah masa depan anak-anak disiapkan. Apa yang dilakukan guru melalui proses belajar-mengajar akan memberikan perubahan dalam diri siswanya, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang. Pepatah mengatakan, “Guru kencing berdiri, murid kencing berlari.” Artinya, apa pun yang diajarkan dan dilakukan guru akan ditiru dan bahkan dimodifikasi sedemikian rupa oleh muridnya melampaui apa yang sudah diajarkan. Lebih-lebih bagi murid PAUD yang terkenal sebagai peniru ulung.

Fasilitator Pelatihan “Menjadi Guru yang Baik”, Genie F Fendy memberikan penjelasan kepada peserta dalam diskusi kelompok pada pelatihan yang dilaksanakan pada 19-20 Oktober 2017, di gedung BKPP Kab. Demak

Jadi, amanah yang harus dipikul oleh guru PAUD memang tidak ringan. Mereka tidak hanya dituntut mampu melakukan transfer of knowledge (pengajaran), namun memberi dorongan, inspirasi dan sekaligus menjadi suri tauladan. Jika merujuk pada ajaran tokoh pendidikan Indonesia Ki Hajar Dewantara, maka guru haruslah memiliki sikap ing ngarsa sung tulodo, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Artinya, ketika di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan. Di mana pun posisinya guru harus luwes menempatkan diri dan mengambil peran.

Untuk memainkan peran ini dengan baik, salah satu langkah terpenting yang perlu dilakukan guru adalah bekerja sama dengan berbagai pihak terkait, baik dengan siswa, orangtua, masyarakat, pengelola satuan pendidikan, maupun pemerintah. Tanpa kerja sama yang baik, maka sangat sulit mewujudkan peran-peran tersebut secara berkualitas. Oleh sebab itu, dalam konteks inilah AMURT kemudian mencoba mengambil inisiatif untuk membekali para guru dampingannya dengan pelatihan “Menjadi Guru yang Baik” dengan penekanan pada aspek kerja sama. Pelatihan ini dilangsungkan pada tanggal 19-20 Oktober 2017 dengan difasilitasi oleh Genie Fitriady, bertempat di gedung BKPP Kab. Demak.

Salah seorang peserta pelatihan dari PAUD Permata Hati, Maslahah, mewakili kelompoknya untuk sharing tentang gambar yang telah dibuat untuk mengekspresikan diri beserta kelebihan-kelebihan yang dimiliki masing-masing anggota kelompoknya dalam pelatihan “Menjadi Guru yang Baik”, 19-20 Oktober 2017, di gedung BKPP Kab. Demak.

Dalam pelatihan ini Genie mengajak seluruh peserta untuk saling berkenalan, kemudian mereka diminta menggambar dan menuliskan keunggulan-keunggulan yang dimilikinya, lalu menceritakan gambar beserta keunggulan tersebut di depan peserta lain. Peserta lain bertugas mendengarkan saja, tidak diperkenankan menyangkal teman yang sedang bercerita. Melalui aktivitas ini Genie mengajak para peserta untuk memahami pentingnya saling mengenal dan mau mendengarkan orang lain sebagai prasyarat terjadinya kerja sama bermutu. “Untuk menjalin kerja sama, harus saling kenal terlebih dahulu. Kerja sama hanya mungkin dilakukan jika pihak-pihak yang terlibat di dalamnya saling mengenal satu sama lain, sehingga semakin dalam saling mengenalnya maka akan semakin baik. Bagaimana mau bekerja sama jika tidak saling kenal dan mau mendengar?,” kata Genie menegaskan dengan nada tanya.

Setelah aktivitas saling mengenal dan sharing cerita, para peserta dibagi dalam kelompok-kelompok kecil dan diberi tugas membuat project membangun jembatan dari kertas selama 30 menit dengan diberi modal beberapa lembar kertas koran bekas dan lakban sepanjang satu meter. Melalui aktivitas ini para peserta diajak belajar memahami apa yang terjadi dalam kerja sama dan bagaimana pentingnya kerja sama. Melalui project ini, dalam sesi sharing peserta menyampaikan bahwa mereka bisa mengerti pentingnya sikap saling percaya, memahami, melengkapi, beradaptasi, menentukan tujuan bersama, lalu menyusun strategi dan berbagi peran untuk mencapai visi bersama. Kepercayaan adalah bahan bakar utama di dalam menjalankan kerja sama. “Dalam kerja sama harus ada kepercayaan. Tanpa kepercayaan akan sulit tercipta sebuah kerja sama yang berkualitas,” ujar Genie menegaskan apa yang disampaikan para peserta.

Para peserta pelatihan bekerja sama mengerjakan project pembangunan jembatan dari kertas. Melalui project ini fasilitator mengajak peserta belajar bekerjasama melalui “bermain” lalu memaknainya dalam pelatihan “Menjadi Guru yang Baik”, 19-20 Oktober 2017, di gedung BKPP Kab. Demak.

Pada sesi terakhir Genie menjelaskan tentang alasan dirinya memulai pelatihan ini dengan meminta peserta menuliskan kelebihannya masing-masing. Melihat kelebihan orang lain mendorong terhadap tumbuhnya sikap positif dan produktif, sedangkan melihat kekurangan biasanya akan membawa pada sikap negatif dan kontra-produktif. “Mengapa di awal pelatihan dimulai dengan kelebihan, karena dengan kelebihan bisa bekerja sama dalam melakukan banyak hal. Jika memulai dengan kekurangan, maka orang akan sulit bekerja sama karena saling melihat kekurangan,” urainya kepada peserta.

Adapun materi yang ada dalam pelatihan ini secara keseluruhan merupakan materi yang sudah ada di dalam diri masing-masing peserta sendiri, baik berupa pengalaman maupun pengetahuan. Materi itulah yang kemudian dieksplorasi oleh fasilitator sebagai bahan pelatihan. “Tiap orang punya pengalaman, dan dari pengalaman yang dimiliki itulah seharusnya seseorang belajar. Saya bisa saja kasih materi berupa fotokopian atau power point yang banyak, namun saya khawatir kalau tidak dibaca. Saya ingin mengajak kita semua membaca materi yang sudah ada dalam diri kita sendiri,” pungkas Genie disambut tepuk tangan meriah peserta.#