I Kadek Mudiastra: Baru Kenal Kurikulum PAUD, Sentra dan Parenting setelah Ikut Pelatihan AMURT

“Saat kecil saya sekolah sampai sore tapi senang, sekarang saya lihat kok anak-anak tidak senang, padahal sekolahnya sampai siang saja. Saya pingin anak-anak sekolah dengan senang,” ujar I Kadek Mudiastra, salah seorang peserta magang di PAUD Koronka yang difasilitasi oleh AMURT Indonesia, selama 5 hari, 23-27 Oktober 2017. Berangkat dari tekad untuk membuat sekolah yang menyenangkan itu pula yang mendorongnya rela terbang dari Bali ke Semarang untuk bergabung dalam program peningkatan kapasitas guru PAUD yang diselenggarakan oleh AMURT Indonesia.

Kadek pertama kali ke Semarang mengikuti pelatihan yang diselenggarakan AMURT tahun 2015. Di tahun itu juga dia berkenalan dengan BAPP (Buku Aktivitas Pembelajaran PAUD) yang dikembangkan oleh Tim AMURT. Mengenal BAPP sungguh membuatnya senang, seolah sedang menemukan sesuatu yang sudah lama dicarinya tapi tidak kunjung ketemu. “Oh, ini yang saya inginkan,” ujarnya saat berkisah tentang perkenalannya dengan BAPP saat itu. Walhasil, sepulang ke Bali, Kadek kemudian mempresentasikan BAPP di depan ayahnya, yang saat itu menjadi kepala sekolah PAUD Yudhistira. Sang ayah pun menyambut dengan kedua tangan. “Ini sesuai. Cocok,” ujar ayahnya saat itu. BAPP pun kemudian diterapkan secara keseluruhan di sekolahnya. “BAPP sangat rinci, banyak mainan. Anak-anak sangat senang, anak-anak antusias dengan berbagai mainan di dalamnya,” ujarnya berkisah.

Seiring perjalanan waktu, Kadek pun diserahi tanggung jawab oleh keluarganya untuk mengelola sekolah tersebut. Saat ini dia menjadi pengelola lembaga PAUD Yudistira, di Desa Batuan, Kec. Sukawati, Gianyar, Bali. Lembaganya ini memiliki 15 guru dan 115 siswa. Selain layanan TPA, Playgroup, dan TK, dia juga mengelola layanan Bimbingan Belajar dengan jumlah siswa 120 anak.

Untuk semakin memajukan lembaganya, di tahun 2016 Kadek mengikuti program pelatihan parenting di Kab. Demak yang diselenggarakan oleh AMURT. Di pelatihan ini pula untuk pertama kalinya dia mengetahui tentang apa itu parenting. “Sebelumnya tidak pernah mengadakan program parenting, hanya outing saja, rekreasi keluar,” ujarnya sambil tertawa. Sepulang dari pelatihan ini, Kadek kemudian mengadakan parenting dengan kegiatan membuat ogoh-ogoh kerja sama orang tua bersama anak (murid). Menurutnya orang tua sangat senang dengan kegiatan ini dan menjadi menyadari sulitnya menjadi guru. “Wah, ternyata susah ya menjadi guru,” kenang Kadek menirukan salah seorang orang tua siswa di sekolahnya. Bulan Oktober lalu sekolahnya juga mengajak anak-anak bersama orang tua dan guru untuk membuat barong dari kain daur ulang. Barong ini kemudian dibawa oleh anak-anak untuk menghibur para pengungsi akibat Gunung Agung di Gianyar Bali berstatus AWAS.

I Kadek Mudiastra (kanan) bersama Fasilitator AMURT Indonesia Dimas Purwo (kiri) saat mengikuti proses magang di PAUD Koronka, Bawen, Kab. Semarang, 23-27 Oktober 2017.

Setelah mengikuti pelatihan parenting, masih di tahun 2016, dia kemudian mengikuti pelatihan Kurikulum PAUD Tahun 2013 (K-13 PAUD) yang diselenggarakan oleh AMURT di Semarang. Hal ini juga sekaligus merupakan untuk yang pertama kalinya dirinya mengenal kurikulum PAUD. “Saya baru kenal kurikulum ya saat mengikuti pelatihan ini,” ujarnya. Pada pelatihan ini dia berkesempatan mengunjungi PAUD unggulan Jawa Tengah, PAUD Taman Belia Candi Semarang. “Saya lihat Taman Belia, wah sekolah ini cocok dengan sekolah saya. Sekolah saya tempatnya luas, bisa didesain seperti Taman Belia,” ujarnya mengenang. Sekembalinya ke Bali, dia pun kemudian mencoba menerapkan K-13 PAUD, dengan membuka lima sentra: peran, persiapan, seni, balok, dan alam. “Saya beli barang-barang, material, balok, dan sebagainya untuk membentuk sentra dan menerapkan K-13,” tuturnya.

Saat berangkat ke Semarang di bulan Oktober kemarin, Kadek sudah mempersiapkan diri dengan memetakan kebutuhan sekolahnya, sehingga jauh-jauh hari dia sudah membuat daftar pertanyaan yang akan dicarikan jawabannya saat magang. “Saya sudah menyiapkan semua pertanyaan, jadi tinggal tanya,” terangnya. Selama magang, dia merasa sangat beruntung karena selain mendapatkan jawaban atas semua yang dicarinya dia merasa mendapatkan harta karun. “Oh ini tho sentra. Oh, saya seperti dapat harta karun,” ujarnya dengan bersungguh-sungguh saat menceritakan pengalamannya selama magang dan bergabung dengan program AMURT. Dia pun bertekad untuk bisa mengimplementasikan apa yang telah dipelajarinya dalam kurun waktu tiga tahun. “Saya target selama 3 tahun untuk mengimplementasikan semua ilmu yang saya dapat dari AMURT dan magang,” lanjutnya.#