Study Circle

AMURT me-launching Program Study Circle pada bulan Mei 2016 setelah sebelumnya mengambil keputusan bersama dengan Dinas Pendidikan Kota Semarang, Dinas Pendidikan Kab. Demak dan HIMPAUDI Kota Semarang dan Kab. Demak untuk lebih fokus membantu 48 sekolah dampingan AMURT beralih ke Kurikulum 2013 PAUD.

Study Circle sendiri merupakan diaspora dari sistem Gugus AMURT (lihat: Pertemuan Gugus), yang lahir karena kebutuhan lembaga-lembaga dampingan AMURT terhadap pendampingan yang intensif di dalam memahami dan menerapkan Kurikulum 2013 PAUD (K-13 PAUD).

Study Circle ini pesertanya sangat terbatas, pada fase 1 hanya terdiri dari satu lembaga dengan jumlah peserta yang bergantung pada jumlah guru di lembaga tersebut, biasanya bervariasi antara 2-11 orang, pada fase 2 jumlah lembaga peserta ditingkatkan menjadi 2-5 lembaga. Di dalam menjalankan Study Circle ini tim fasilitator mengunjungi satu sekolah pada satu waktu, kemudian melakukan “belajar bersama” dengan guru-guru pada sekolah tersebut. Study Circle ini menjadi wahana problem-solving yang fokus pada kebutuhan spesifik lembaga tersebut. Melalui Study Circle ini diharapkan lembaga dampingan AMURT akan lebih cepat dalam mendalami dan menerapkan Kurikulum 2013 PAUD. Di sisi lain, study circle ini juga dijalankan oleh semua Peserta PCP di tingkat kecamatan seperti: melalui pertemuan HIMPAUDI, PKG ataupun pertemuan yang memang disetting khusus bagi pendidik non dampingan AMURT di suatu kecamatan untuk mendapatkan sharing ilmu dari peserta PCP AMURT.

Pada tahap awal, Study Circle ditekankan untuk membantu masing-masing sekolah beralih dari setting kelas dengan pembelajaran klasikal menuju pendekatan yang direkomendasikan oleh K-13 (child oriented), seperti sentra, area, sudut, atau kelompok. Tahap selanjutnya difokuskan untuk mendampingi sekolah di dalam memahami tingkat perkembangan anak dan desain perencanaan pembelajaran (semester, mingguan, harian), cara mengevaluasi atau membuat penilaian, membuat SOP pembelajaran, menggali ragam main, penyusunan program tahunan, penyusunan program lembaga, hingga membuat setting ruang kelas atau dan sebagainya. Meskipun topik pembahasannya sama, namun antara satu lembaga dengan lembaga lain akan memiliki kekhasan yang berbeda di dalam membuat desain dan perencanaan pembelajaran, karena masing-masing lembaga memiliki karakteristik dan kebutuhan yang berbeda.